Pernah denger cerita soal jalan di Sumba yang rusak parah saat hujan? Bukan sekadar hoax. Tapi di balik itu, ada pay-off besar: padang savana hijau sejauh mata memandang, air terjun nggebu, dan pantai tanpa satu pun turis. Saya habiskan dua minggu di sana pada Februari lalu—tepat di puncak musim hujan. Ini lapangan nyata, bukan teori.

Jalan Rusak vs Pemandangan Hijau: Mana yang Lebih Nyata?

Musim hujan di Sumba jatuh dari Desember hingga Maret. Curah hujan bisa mencapai 200-300 mm/bulan. Jalanan yang tadinya berdebu jadi licin bak sabun. Tapi tanah merahnya menyerap air, membuat seluruh pulau bertransformasi jadi permai.

Realita Jalan: Bukan semua rute jadi neraka. Jalan nasional (Waingapu–Mau Hau–Waikabubak) masih 80% aspal mulus. Masalahnya ada di jalan desa menuju spot wisata.

Rute Paling Parah (Wajib 4WD)

  • Weekuri Lagoon – Ratenggaro: 45 km ditempuh 2,5–3 jam. Tanjakan curam, lumpur setinggi 20 cm.
  • Waikabubak – Lapopu Waterfall: 15 km jalan desa, bisa 1 jam. Jembatan bambu sering ambrol.
  • Puru Kambera – Waimarang Waterfall: Butuh motor trail atau jeep. Jalan batu, air mengalir di atasnya.

Rute Masih Aman (Mobil Normal Oke)

  • Waingapu – Tarimbang Beach: 120 km, 2,5 jam. Aspal mulus, hanya beberapa titik longsor kecil.
  • Waikabubak – Lamboya: Jalan raya dalam kondisi baik, pemandangan sawah hijau di kanan kiri.
Baca:  Pengalaman Solo Traveling Ke Nusa Penida: Rute Motoran Dan Biaya Total

Spot Pemandangan Hijau yang Nggak Bisa Dilewatin

Savana Sumba di musim hujan itu primeval. Bukan sekadar hijau, tapi gradasi: lumut muda, rumput laut, daun pandan. Kuda-kuda liar lari bergerombolan. Air terjun yang biasanya cuma menetes jadi nggebu.

Tanarara Hills: Bukit bergelombang di sekitar Waikabubak. Dari atas, kamu lihat lautan rumput berombak kena angin. Pagi-pagi buta, kabut turun sampe ke lembah.

Waimarang Waterfall: Airnya jatuh dari 20 meter ke kolam biru toska. Debitnya 3x lipat dari musim kemarau. Harus trekking 40 menit dari parkir, melewati sungai kecil yang airnya sampai pinggang.

Pantai Mandorak: Air lautnya jernih, tapi ombaknya gila. Pohon-pohon pandan di pinggir tebing makin hijau. Pasir putih masih halus, nggak ada jejak tangan.

Aktivitas yang Masih Bisa Dilakuin (dan yang Harus Dihindari)

Nggak semua aktivitas mati saat hujan. Yang penting timing dan lokasi.

Aman Dikerjain Saat Gerimis

  • Surfing di Tarimbang: Ombak justru lebih konsisten. Pantai landai, jadi nggak bahaya.
  • Trekking ke Desa Adat: Desa Ratenggaro atau Praijing masih bisa dikunjungi. Tanjakan batu jadi licin, pakai sepatu gunung.
  • Photography: Cahaya difus, warna lebih jernih. Kabut pagi di savana itu money shot.

Yang Harus Ditunda Sampai Kering

  • Island hopping ke Pulau Mengudu: Ombak besar, perahu nggak berani.
  • Motorcross di savana: Motor bisa tenggelam lumpur.
  • Camping di tepi pantai: Resiko banjur bandang.

Biaya Liburan: Lebih Murah atau Lebih Mahal?

Ini fakta menarik: musim hujan = low season. Harga turun 20-40%. Tapi ada biaya hidden di transportasi.

ItemMusim Kering (Apr-Nov)Musim Hujan (Des-Mar)
Hotel homestayIDR 300.000/malamIDR 200.000/malam
Jeep rental 4WDIDR 700.000/hariIDR 900.000/hari (bbm naik)
Guide lokalIDR 150.000/hariIDR 150.000/hari (sama)
Total 5 hariIDR 3.5 jutaIDR 3.2 juta (kalau pintar atur)
Baca:  Wisata Belitung Tanpa Tour Guide: Review Kemudahan Akses Dan Sewa Motor

Tip hemat: Sewa motor (IDR 80.000/hari) untuk rute aman. Sisanya naik ojek desa (IDR 50.000/trip) buat jalan rusak.

Tips Survival ala Sumbawa Veteran

Nggak usah parno. Tinggal siapin aja.

Warning: Jangan pernah naik motor di jalan tanah saat hujan deras baru reda. Tanah merah Sumba itu seperti selai kacang: lengket dan bikin ban selip.

  • Pilih penerbangan pagi: Cuaca sore sering bikin delay. Wings Air jam 07:00 dari Denpasar paling aman.
  • Pakai dry bag: Bukan cuma untuk barang, tapi juga untuk pakaian cadangan. Kamu bakal kuyup.
  • Beli sim card di Waingapu: Sinyal Telkomsel 4G cuma di kota. Di pedalaman, cuma sinyal SOS.
  • Bawa uang cash: ATM cuma di Waingapu dan Waikabubak. Desa-desa nggak ada.
  • Pesan penginapan dengan dapur: Kadang warung tutup karena hujan. Masak indomie jadi penyelamat.

Kesimpulan: Untuk Siapa Ini Cocok?

Liburan hujan di Sumba itu bukan untuk semua orang. Kalau kamu photographer, budget traveler, atau adventure seeker yang nggak masalah kedinginan dan kotor, ini surga.

Tapi kalau kamu bawa orang tua, anak kecil, atau cuma mau chill di resort, tolong jangan. Jalan rusak bakal bikin semua orang cranky. Pilihan ada di tanganmu: mau pemandangan hijau yang eksklusif, atau jalan mulus tapi padat turis?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Pulau Pari Kepulauan Seribu: Kondisi Homestay Dan Kejernihan Air Terbaru

Pulau Pari sering jadi pilihan pertama buat yang mau coba Kepulauan Seribu…

Review Naik Jeep Merapi: Rute Terjal, Debu, Dan Tips Agar Tidak Mabuk

Bayangkan: kamu baru lima menit duduk di jeep, tapi perut sudah mulai…

Wisata Belitung Tanpa Tour Guide: Review Kemudahan Akses Dan Sewa Motor

Belitung itu kayak teman yang sebenarnya easy-going, tapi sering diberi label ribet.…

Liburan Ke Labuan Bajo Bawa Balita: Review Kenyamanan Kapal Phinisi & Rute

Liburan ke Labuan Bajo dengan balita? Banyak orang bilang gila. Saya pikir…