Pernah dengar desa di Bali yang katanya super bersih? Sampai-sampai dapet penghargaan dari UNESCO? Nah, Desa Penglipuran memang jadi bahan perbincangan karena kebersihannya yang “katanya” luar biasa. Tapi sebersih apa sih sebenarnya? Apa cuma sekadar hype di Instagram?
Sebagai seseorang yang sempat nginep dua malam di sini, aku bakal ceritain semuanya—tanpa filter. Mulai dari jalanan yang beneran tanpa sampah sampai dilema wisata versus keaslian budaya. Siap-siap, soalnya mungkin ekspektasimu bakal diketok realita.
Apa yang Membuat Penglipuran Beda dari Desa Wisata Lain?
Bayangin desa tradisional di mana rumah-rumahnya punya gerbang seragam, atap dari ijuk, dan dinding dari bambu. Semua terlihat harmonis. Itu Penglipuran. Tapi bukan cuma soal estetika, desa ini hidup dengan konsep Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan sang Hyang Widhi.
Desa ini berada di ketinggian sekitar 700 mdpl, jadi udaranya seger banget. Jalan utamanya dari batu, nggak ada kendaraan bermotor yang boleh masuk ke area inti desa. Suasananya tenang, adem, dan somehow bikin kamu jadi lebih santai secara instan.
Catatan penting: Desa Penglipuran bukan cuma destinasi foto-foto. Ini komunitas yang masih aktif menjalankan adat. Jadi, hormati privasi warga—jangan seenaknya masuk ke halaman rumah tanpa ijin.
Sebersih Apa Sih Sebenarnya?
Oke, mari kita bahas yang paling ditunggu: kebersihan. Jujur, jalanan utama benar-benar tanpa sampah. Nggak ada plastik, nggak ada daun kering, nggak ada debu. Tim kebersihan desa bersihin jalan setiap pagi. Kamu bisa jalan kaki tanpa sandal dan kaki tetap bersih—serius.
Tapi, ini nada realistanya: di beberapa gang kecil menuju area perumahan warga, kamu mungkin nemuin sedikit daun yang gugur atau tanah yang agak becek pas hujan. Nggak selalu sempurna 24/7, tapi tetap jauh lebih bersih dari 90% desa wisata lain yang pernah aku datengin.

Data Konkret buat Kamu yang Skeptis
Desa ini dapet penghargaan UNESCO Awards of Excellence tahun 1995 untuk pelestarian bangunan tradisional. Terus, menurut data Dinas Pariwisata Bali, Penglipuran dikunjungi sekitar 300-400 wisatawan per hari di musim normal. Lumayan ramai, tapi nggak sepadat Ubud.
Tim kebersihan desa terdiri dari warga sukarela yang bergiliran. Mereka bersihin jalan mulai jam 6 pagi. Sampah organik dimanfaatin buat kompos, sampah anorganik dipilah, dan semuanya diolah di tempat. Nggak ada yang dibuang sembarangan.
Pengalaman Jalan-Jalan: Rute dan Spot Terbaik
Desa ini nggak besar. Kamu cuma butuh sekitar 1-2 jam buat jelajahi semua area. Tapi, aku rekomen sih datengnya pagi-pagi banget, sebelum jam 8. Kenapa? Karena sinar matahari pagi bikin foto jadi golden hour perfection, dan kamu masih bisa denger suara burung serta asap dupa dari rumah warga.
Rute ideal: Masuk dari gerbang utama → jalan lurus ke arah pura desa → mampir ke area pertunjukan tari (kalau ada) → belok kiri ke area perumahan → keluar melalui gerbang belakang menuju hutan bambu.
Tempat Wajib Dikunjungi
- Pura Desa Penataran: Pura utama di ujung jalan. Arsitekturnya khas Bali, dan kamu bisa denger suara tirta (air) mengalir dari patirtan.
- Hutan Bambu: Di belakang pura, ada hutan bambu yang super teduh. Jalan setapaknya lumayan panjang, cocok buat meditasi singkat.
- Galeri Seni Warga: Beberapa rumah jadi galeri kecil. Kamu bisa beli ukiran bambu atau tenun tradisional langsung dari pengrajinnya.
Oh ya, di tengah desa ada wantilan (balai pertemuan) yang biasanya dipake buat acara adat. Kadang ada kelompok warga yang ngajarin buat anyaman bambu—gratis asal kamu minta ijin dengan sopan.
Biaya, Waktu Terbaik, dan Tips Anti-Ribet
HTM masuk ke desa ini sekitar Rp 30.000 per orang untuk wisatawan lokal. Kalau bule, biasanya Rp 50.000-75.000. Mahal? Nggak lah. Uangnya dipake buat kebersihan dan acara adat.
Parkir mobil di luar area desa, sekitar 500 meter dari gerbang. Biaya parkir Rp 10.000 per mobil. Motor bisa lebih dekat, tapi tetap nggak boleh masuk ke jalan batu utama.
| Fasilitas | Biaya | Keterangan |
|---|---|---|
| Tiket Masuk (Lokal) | Rp 30.000 | Termasuk brosur peta |
| Tiket Masuk (Turis) | Rp 50.000-75.000 | Bisa berubah sesuai musim |
| Parkir Mobil | Rp 10.000 | Di luar area desa |
| Guide Lokal | Rp 100.000 | Optional, tapi worth it |
Kapan Harus Datang?
April-Oktober adalah waktu terbaik. Musim kemarau, jadi jalanan kering dan nggak becek. Hindari Desember-Februari karena hujan deras bisa bikin jalan batu licin.

Tips Praktis yang Jarang Dibahas
- Pakai sepatu yang nyaman, tapi solnya nggak terlalu tebal. Jalan batunya kadang licin.
- Bawa uang tunai kecil. Nggak ada ATM di dalam desa.
- Kalau mau foto warga, tanya dulu. Mereka ramah, tapi privasi tetap penting.
- Hindari pakai speaker bluetooth nyetel musik keras. Desa ini quiet zone.
Makanan dan Oleh-Oleh: Apa yang Worth It?
Di ujung desa dekat parkir, ada warung-warung kecil. Aku coba tipat cantok (ketupat dengan sayur dan kacang) seharga Rp 15.000. Rasanya enak, tapi porsinya kecil. Bisa jadi camilan aja.
Minuman yang wajib coba: es daluman (cincau hijau Bali) yang dijual warga. Segar, manis pas, dan hanya Rp 10.000 per gelas. Aku minum dua gelas sekaligus karena panasnya terik.
Buat oleh-oleh, beli aja banten (sesajen dari janur) atau anyaman bambu mini. Harganya Rp 20.000-50.000 tergantung ukuran. Jangan beli di gerbang utama, lebih mahal. Beli di galeri dalam desa, langsung dari pembuatnya.
Kesan Akhir: Worth It atau Nggak?
Penglipuran itu worth every penny dan waktu kalau kamu datang dengan ekspektasi yang tepat. Jangan datang cari hiburan kayak waterboom atau club. Datanglah buat lihat bagaimana budaya dan kebersihan bisa jadi satu paket yang sustainable.
Yang paling aku suka: authenticity-nya masih terasa. Warga tetap ngelakuin ritual harian tanpa peduli ada kamera. Yang kurang: area parkir yang masih kurang terorganisir dan toilet umum yang cuma ada dua—kadang antrean panjang pas weekend.
Verdict: Kalau kamu tipikal traveler yang suka slow travel dan ngobrol sama warga, Penglipuran adalah surga. Tapi kalau kamu cuma mau foto Instagrammable doang, sejam cukup, dan kamu bakal ketinggalan esensinya.
FAQ Singkat (Biar Nggak Bingung)
Apakah ramah anak kecil? Sangat. Jalanannya aman dari kendaraan, tapi bawa stroller yang roda-nya kuat karena batu.
Bisa nginep di dalam desa? Bisa, tapi pilihan terbatas. Ada beberapa homestay warga. Harga Rp 200.000-300.000 per malam. Fasilitas basic, tapi pengalamannya priceless.
Apakah ada WiFi? Nggak ada di area publik. Beberapa warung ada WiFi, tapi sinyal lemot. Disconnect sejenak, dong.
Itu dia review jujur dari aku. Semoga membantu kamu yang lagi pertimbangkan buat ke Penglipuran. Ingat, hormati budaya dan bawa sampahmu pulang—meski di sini emang super bersih. Selamat jalan-jalan!




