Pernah nggak sih, kamu ke rooftop cafe dengan ekspektasi tinggi gara-gara view-nya viral di Instagram, tapi pas makanan datang, rasanya… ya, gitu deh. HeHa Sky View Jogja lagi ramai dibicarain, dan pertanyaan paling umum yang muncul: “Cuma view doang, kan?” Setelah dua kali visit, siang dan sore, gw bisa bilang ini bukan cerita hitam-putih. Ada nuansa penting yang perlu kamu tahu sebelum booking.
Datang Siang vs Sore: Dua Dunia Berbeda
HeHa Sky View terletak di lantai 15 HeHa Hotel, Jl. Godean. Liftnya cukup cepat, tapi jangan kaget kalau antrean masuk bisa 20 menit saat weekend. Siang hari, tempatnya terasa terbuka dan panas—meski ada payung. Sore menjelang magrib? That’s the magic hour.
View-nya memang beneran 360 derajat. Kamu bisa lihat Merapi di utara, Malioboro di timur, dan kota Jogja yang terbentang luas. Tapi ada triknya: spot terbaik ada di sudut barat laut, dekat bar. Di sana, garis horizon-nya paling bersih.

Makanan: Di Bawah Ekspetasi atau Worth It?
Menu-nya campuran Western dan lokal, harga mulai Rp 35.000 untuk minuman hingga Rp 120.000 untuk main course. Gw coba HeHa Fried Rice (Rp 48.000) dan Chicken Steak (Rp 85.000). Nasi gorengnya surprisingly enak—wokhei-nya terasa, rasanya bold, porsi cukup. Tapi steak-nya? Dagingnya tipis dan sausnya terlalu asin.
Untuk minuman, Lychee Mojito (Rp 42.000) adalah pemenang. Segar, nggak terlalu manis, presentasinya Instagram-worthy. Tapi kopi-nya rata-rata, nothing special. Kalau mau cuma ngopi, ada tempat lain di Jogja yang lebih worth it.
Yang perlu diingat: kitchen-nya shared dengan hotel, jadi saat rush hour (jam 6 sore), waiting time bisa 45 menit. Order appetizer kalau laper, jangan langsung main course.
View-nya: Beneran Spektakuler atau Cuma Hype?
Ini bagian paling jujur. View-nya legitimately amazing, tapi dengan catatan. Cuaca Jogja sering mendung, terutama Desember-Februari. Kalau mau sunset yang perfect, cek forecast dulu. Gw datang pertama kali Januari—awan tebal, view jadi flat.
Kedua kali visit, Maret, langit cerah. Sunset jam 5:45 PM, dan dalam 15 menit, langit berubah jadi kanvas oranye-ungu. Spot foto di pinggir kolam refleksi itu paling dicari, tapi sering ditempatin influencer dengan 30 menit photo session. Sabar atau datang lebih awal.
Malam hari, lampu kota bikin vibe romantis. Tapi lighting untuk foto makanan jadi buruk—backlit semua. Jadi pilih: foto view atau foto makanan, nggak bisa dua-duanya.
Yang Perlu Kamu Siapin Sebelum Datang
HeHa Sky View bukan tempat buat kamu yang cari makan cepat atau meeting serius. Ini tempat experience-first. Berikut checklist:
- Reservasi wajib via Instagram @hehaskyviewjogja, terutama weekend. Walk-in? Hampir mustahil.
- Minimal order Rp 50.000 per orang, tapi realistisnya kamu akan habis Rp 100.000-150.000.
- Parkir di basement hotel, tapi slot terbatas. Alternatif: parkir di pinggir jalan Godean, jalan kaki 5 menit.
- WiFi-nya lemot saat penuh. Jangan andalkan buat kerja.
- Best time: weekdays 4-6 PM. Weekend? Datang jam 3 PM atau 7 PM ke atas untuk hindari peak crowd.

Verdict Akhir: Untuk Siapa Sih Ini Tempatnya?
HeHa Sky View adalah guilty pleasure yang harus kamu coba sekali. Tapi setelah itu? Tergantung prioritas. Kalau kamu content creator atau lagi date night, view-nya worth every penny. Kalau kamu foodie sejati, makanannya cukup “oke” tapi nggak bakal bikin kangen.
Bottom line: Bayar mahal untuk view, dapat bonus makanan yang edible. Jangan datang dengan ekspektasi kuliner tinggi, tapi datang dengan kamera terisi penuh dan santai. HeHa menang di view, kalah di konsistensi makanan.
Alternatif di Jogja dengan view mirip tapi makanan lebih konsisten: Abhayagiri Restaurant (pricier) atau SkyView Cafe & Resto (view nggak 360 tapi food-nya lebih teruji). Tapi untuk combo view spektakuler + harga terjangkau, HeHa masih di atas.
Pilihan ada di tanganmu. Yang penting, setelah baca ini, kamu dateng dengan ekspektasi yang realistis. Selamat menikmati Jogja dari atas!




