Pulau Pari sering jadi pilihan pertama buat yang mau coba Kepulauan Seribu tanpa ngeluarin budget gila-gilaan. Ekspektasinya: pulau kecil dengan air super jernih, homestay murah, dan vibe desa yang chill. Realitanya? Ya, ada bumbu-bumbu kejutan yang bikin perjalanan ini either memorable atau memorable for the wrong reasons. Gue habisin dua malam di sana bulan lalu, ngeliat langsung kondisi terkini—termasuk homestay yang lagi rame dibahas dan kejernihan air yang ternyata very location-dependent.

Kondisi Air Terbaru: Jernih atau… Jernih Setengah Hati?

Let’s cut to the chase: kejernihan air di Pulau Pari itu nggak merata. Ini fakta paling krusial yang harus lo tau sebelum booking tiket. Gue ngeliat perbedaan drastis antara pantai di sebelah utara (dekat dermaga) sama bagian selatan (Pantai Perawan).

Pantai Utara & Sekitar Dermaga: Expect the Unexpected

Area ini ramai, iya. Tapi airnya? Cukup keruh karena aktivitas perahu yang padat. Jangan harap bisa snorkeling langsung dari tepi. Gue coba masuk air di depan warung makan dekat dermaga, dan visibilitasnya cuma 1-2 meter. Cukup buat basah-basahan, tapi nggak untuk liat ikan.

Pantai Perawan & Bagian Selatan: The Real Deal

Ini hidden gem-nya Pulau Pari. Butuh jalan kaki 15 menit dari dermaga, tapi worth every drop of sweat. Pasir putih lebih halus, air bening 3-4 meter, dan coral reef di dekat pulau kecil sebelah selatan masih cukup sehat. Gue snorkeling di sana dan ketemu pari kecil, bintang laut, serta banyak ikan warna-warni. Jaraknya cuma 200 meter dari bibir pantai.

Snorkeling Spot Terkini

Operator lokal sekarang fokus ke dua spot utama: Karang Bongkok dan Pulau Tikus. Karang Bongkok masih oke, tapi mulai ada tanda-tanda kerusakan akibat trampling. Pulau Tikus (sebuah atol karang kecil) lebih spektakuler dengan drop-off wall yang penuh ikan. Harga sewa perahu lokal untuk hppping spot: IDR 350.000 per boat (muat 6-8 orang). Solo traveler bisa join open trip di dermaga, biasanya IDR 100.000 per orang.

Pro tip: Jangan percaya foto-foto di Instagram yang kebanyakan diambil dari drone di atas jam 10 AM. Airnya memang terlihat biru toska dari atas, tapi underwater visibility bisa beda jauh tergantung arus dan jumlah pengunjung.

Homestay Reality Check: Apa yang Lo Dapet dengan Budget Segitu?

Sekarang ke bagian paling kontroversial: homestay. Gue coba tiga tipe akomodasi yang paling banyak di-booking: budget non-AC, mid-range AC, dan yang katanya “premium”.

Baca:  Wisata Belitung Tanpa Tour Guide: Review Kemudahan Akses Dan Sewa Motor

1. Budget Non-AC (IDR 300.000 – 450.000/malam)

Representative: Pari Homestay & Akbar Homestay. Kamar ukuran 3×4 meter, kasur spring bed, kipas angin, dan kamar mandi luar. Here’s the kicker: air tawar terbatas. Jam operasional air bersih cuma dari jam 6-9 AM dan 5-8 PM. Di luar jam itu, lo mandi pake air sumur yang agak asin. Listrik mati sekitar jam 11 PM–6 AM. Workable buat backpacker, tapi jangan harap tidur nyenyak karena panas dan suara mesin genset dari homestay sebelah.

2. Mid-Range AC (IDR 550.000 – 750.000/malam)

Representative: Pari Wisata Homestay & Mutiara Homestay. Ini yang paling recommended untuk rata-rata traveler. AC nyala 24 jam (selama listrik PLN nyala), kamar mandi dalam, dan air tawar lebih stabil. Tapi tetep ada catch: tekanan air lemah. Gue harus shower dengan gayung karena shower head cuma ngucurin air tipis. WiFi? Jangan harap. Signal 4G cuma ada di area terbuka dekat dermaga.

3. “Premium” Homestay (IDR 800.000+)

Representative: Homestay Bu Neni (yang lagi viral di TikTok). Fasilitasnya memang lebih modern: AC, TV, air panas, dan breakfast included. Tapi lokasinya agak jauh dari pantai (5 menit jalan). Worth it? Kalo lo prioritize comfort over location, yes. Tapi kalo lo mau keluar-masuk pantai sepanjang hari, mending pilih yang mid-range dekat dermaga.

Fasilitas Umum yang (Mungkin) Nggak Lo Dapet

  • Air Minum Galon: Bisa beli di warung sekitar IDR 20.000 per galon 19L. Jangan minum air keran.
  • Handuk & Amenities: Hampir semua homestay nggak provide. Bawa sendiri.
  • Trash Management: Nggak ada tempat sampah di kamar. Lo harus buang sendiri ke titik pengumpulan di pinggir jalan.
  • Generator Noise: Bersiap-siap. Genset nyala dari jam 6-11 PM dan terdengar jelas di semua homestay.

Transportasi & Logistik: Cara Nggak Ketipu di Muara Angke

Boat dari Muara Angke ke Pulau Pari berangkat pukul 7.00 AM. Harga resmi di loket: IDR 45.000 per orang (one way). Tapi banyak calo yang nagih IDR 60.000-80.000 dengan dalih “tiket cepat” atau “sudah termasuk asuransi”. Jangan mau. Beli langsung di loket KMP Pramuka.

Speedboat dari Marina Ancol lebih cepat (90 menit vs 3 jam), tapi harganya IDR 150.000-200.000 per orang tergantung operator. Gue naik KMP pulang-pergi, dan meskipun lama, pemandangan laut di pagi hari worth it. Plus, lo bisa liat lumba-lumba kalau beruntung.

Warning: Jadwal kapal sering delay 30-60 menit tanpa pengumuman. Jangan planning itinerary terlalu ketat. Bawa bekal makanan dan minuman karena nggak ada penjual di dalam kapal.

Kuliner di Pulau: Di Mana Makanan Enak & Nggak Tekor?

Warung makan di Pulau Pari mostly serve seafood dan nasi campur. Harga? IDR 30.000-50.000 per porsi untuk ikan goreng, cumi, atau kepiting. Gue recommend Warung Makan Bu Hj. Nani dekat dermaga: porsi besar, rasa oke, dan harga transparan (no tourist pricing).

Baca:  Review Naik Jeep Merapi: Rute Terjal, Debu, Dan Tips Agar Tidak Mabuk

Untuk cemilan, coba ‘otak-otak ikan pari’ yang dijajakan sore-sore. IDR 5.000 per tusuk, rasanya unik—gurih dengan tekstur lembut. Jangan lupa beli kelapa muda di pinggir pantai: IDR 15.000-20.000, segar banget.

Beach Club & Cafe

Ada satu spot baru: Pari Beach Cafe di Pantai Perawan. Jual smoothie bowl, kopi, dan light bites. Harganya Jakarta-level (IDR 40.000 untuk kopi), tapi view-nya sunset langsung ke Pulau Tikus. Worth it buat sekali-sekali splurge.

Itinerary 2D1N Realistis & Budget Breakdown

Gue kasih contoh itinerary yang gue lakuin sendiri, dengan catatan kondisi fisik normal dan nggak terburu-buru:

Hari 1

  • 05.30: Tiba di Muara Angke, beli tiket
  • 07.00: Berangkat dengan KMP
  • 10.00: Sampai Pulau Pari, check-in homestay
  • 11.00: Makan siang, jalan-jalan ke Pantai Perawan
  • 14.00: Snorkeling di Karang Bongkok (join open trip)
  • 17.00: Kembali, mandi, istirahat
  • 19.00: Makan malam, jalan malem liat bintang

Hari 2

  • 05.30: Sunrise di Pantai Perawan
  • 07.00: Sarapan (nasi goreng warung)
  • 08.00: Snorkeling Kedua ke Pulau Tikus
  • 11.00: Kembali, packing
  • 12.00: Makan siang terakhir
  • 13.30: Check-out, tunggu kapal (biasanya jam 2-3 PM)

Budget Breakdown per Orang (2D1N, Mid-Range)

ItemHarga
Kapal PP (KMP)IDR 90.000
Homestay AC (bagi 2 orang)IDR 300.000
Makan (4x)IDR 150.000
Snorkeling (2 spot)IDR 200.000
Air mineral & cemilanIDR 50.000
TotalIDR 790.000

Kalo lo lebih irit, bisa turun ke IDR 600.000 dengan pilih homestay non-AC dan makan di warung termurah. Kalo solo traveler, nambah IDR 100.000-150.000 karena nggak bisa bagi homestay.

Do’s and Don’ts dari Gue

  • Do: Bawa powerbank besar. Listrik mati 6 jam.
  • Do: Pakai sunblock reef-safe. Coral di sini masih sehat, jangan dibunuh.
  • Do: Nego harga boat snorkeling sebelum naik. Lo punya bargaining power.
  • Don’t: Berenang di area dekat dermaga. Banyak boat, air keruh, dan ada arus kuat.
  • Don’t: Buang sampah sembarangan. Pulau ini nggak punya proper waste management.
  • Don’t: Harapkan WiFi atau signal kuat. Ini digital detox, baby.

Final Verdict: Worth It atau Skip?

Pulau Pari itu worth it kalo lo tau apa yang lo cari. Kalo lo mau Maldives-level clarity dengan resort service, ini bukan tempatnya. Bakal kecewa. Tapi kalo lo traveler yang flexible, enjoy slow living, dan mau snorkeling di spot yang masih cukup sehat dengan budget di bawah 1 juta, Pulau Pari delivers.

Homestay mid-range (IDR 550-700K) adalah sweet spot. Air di Pantai Perawan dan sekitarnya masih jernih untuk snorkeling casual. Tapi lo harus ready dengan kondisi “pulau padat penduduk” yang nggak semuanya tourism-ready. Bawa expectation ke bawah, dan lo akan pulang dengan cerita seru.

Kesimpulan: Pulau Pari adalah kanvas. Hasilnya tergantung gimana lo melukisnya. Bawa sabar, adaptabilitas, dan sedikit bahasa Jawa biar negonya lancar.

Happy traveling, dan jangan lupa bawa dry bag! Air laut suka masuk ke boat tanpa pemberitahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Karimunjawa Vs Pahawang: Review Kejernihan Laut Untuk Pemula Snorkeling

Pernah gue bingung pas mau pertama kali snorkeling. Karimunjawa atau Pahawang? Dua-duanya…

Wisata Dieng Culture Festival: Review Pengalaman Camping Di Suhu Minus Derajat

Bayangkan ini: malam pertama kamu menggigil di dalam tenda, termometer menunjuk -3°C,…

Kelemahan Wisata Bromo Via Malang Yang Jarang Dibahas Travel Agent (Update 2025)

Jalan ke Bromo lewat Malang terdengar menarik, bukan? Rute ini memang jadi…

Review Naik Jeep Merapi: Rute Terjal, Debu, Dan Tips Agar Tidak Mabuk

Bayangkan: kamu baru lima menit duduk di jeep, tapi perut sudah mulai…